Total cerpen di baca: 138
Total kata dlm cerpen: 1535
Tanggal cerpen diinput: Mon, 23 Nov 2009 Jam cerpen diinput: 10:09 AM
0 Komentar cerpen PERISTIWA CINTA Pagi ini, seperti biasanya, Kirana selalu bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuknya dan untuk adiknya. Kirana tinggal di sebuah rumah bersama satu orang adik perempuannya. Kirana bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta untuk membiayai adiknya sekolah. Dia termasuk gadis yang hidupnya sempurna, hanya satu yang kurang darinya, cinta.Selesai sarapan, ia bergegas pergi mengantar adiknya sekolah lalu pergi bekerja. Mobil yang ia kendarai bergerak perlahan dan siap melaju kencang mengantar tuannya ke tempat tujuan. Dalam perjalanan mereka berdua terdiam. Tiara, adiknya, menatapnya tanpa berkata apa-apa. Kirana yang terus diperhatikan oleh adiknya merasa dan kemudian ia bertanya.“Ada apa, Tiara? Apa ada masalah?” tanyanyaTiara menggeleng.“Lalu?”“Apa kakak tidak bosan?” tanya Tiara“Bosan untuk apa?”“Sendiri”“Tidak. Kakak kan punya kamu.”“Maksudnya pacar. Aku saja sudah punya pacar, masa kakak belum?”Kirana tersenyum, kemudian berkata, “Belum ada jodoh”Tiara menerima jawaban dari kakaknya. Sebenarnya Tiara ingin sekali melihat kakaknya memiliki pendamping hidup, karena semua yang Kirana inginkan terwujud kecuali soal cinta.Mobil berhenti di depan SMA swasta. Tiara turun dari mobil lalu melambaikan tangan pada kakaknya. Mobil kembali melaju. Beberapa menit kemudian, tibalah Kirana di perguruan tinggi tempatnya bekerja. Kirana berjalan melewati lorong-lorong kapus menuju kelasnya. Telepon genggam yang ia letakkan di dalam tas bergetar. Kirana merogoh tasnya dan mengambil telepon genggamnya. Tapi tiba-tiba...bruk...ia menabrak seseorang.“Maaf, saya tak sengaja,” ujarnyaKirana menoleh pada orang yang ia tabrak. Seorang lelaki tampan dan tinggi berada tepat di hadapannya. Kirana terdiam. Ia terpesona pada lelaki itu. Wajahnya tampan, kulitnya putih, alisnya tebal beraturan.“Tidak apa-apa,” kata lelaki itu.Kirana masih terpesona. Lelaki itu kemudian menyadarkannya.“Oh, maaf.” Jawabnya singkat.Mereka saling senyum. Lalu lelaki itu mengajaknya berkenalan. Tak lama kemudian mereka berpisah, tetapi hati Kirana mengharap ia bertemu dengan lelaki itu lagi.Pukul 13.00 WIB, Kirana menuju mobilnya untuk pulang. Langkahnya terhenti mendengar suara seseorang yang memanggilnya dari kejauhan. Ia menoleh. Tiba-tiba hatinya berdegup kencang ketika melihat siapa yang memanggilnya. Lelaki tadi, pikirnya. Ryan, nama lelaki itu, berjalan mendekati Kirana.“Hai, sudah mau pulang?” tanya Ryan ramah“Iya” jawab Kirana singkat“Apa siang ini kamu ada acara?”“Tidak”“Kalau aku ajak kamu makan siang, bagaimana?”Kirana tersenyum pada Ryan, lalu berkata, “Tentu”Mereka berdua pergi ke salah satu restoran terdekat. Mereka sebanarnya baru bertemu, tetapi dalam hati masing-masing mereka saling menyukai. Satu jam mereka bersama, mereka berdua menuju mobil masing-masing.“Terima kasih untuk hari ini, ya.” ujar Kirana“Harusnya aku yang berterima kasih, kamu sudi menemani aku makan siang” jawab RyanMereka terdiam. Hanya senyum yang tampak di wajah keduanya.“Kalau begitu, aku permisi pulang,” ujar Kirana.Kirana membuka pintu mobil. Ryan mendekati pintu mobil dan mengucapkan selamat jalan. Tetapi Ryan teringat akan suatu hal, lalu ia berkata“Bolehkan aku tahu alamatmu?” tanyanyaKirana tersenyum dan memberikan kartu nama pada Ryan. Mobil melaju perlahan. Ryan melambaikan tangan pada Kirana yang tak berhenti tersenyum dalam mobilnya.Sejak perkenalan itu, Kirana dan Ryan mulai penjajakan lalu mereka berdua kini memadu kasih. Minggu siang ini mereka pergi ke salah satu kafe.“Mau pesan apa?” tanya Ryan“Terserah kamu saja,” jawabnya singkat.Tampak rona bahagia dari pasangan yang baru menjalin kasih itu. Mereka terdiam sambil menunggu makanan diantarkan. Lalu seseorang mendekati mereka. Seorang lelaki yang tampaknya Ryan mengenalinya.“Hai, Ryan. Apa kabar?” tanya lelaki itu“Kabar baik, Tom.” Jawab RyanMereka berbincang-bincang, sampai-sampai Ryan melupakan Kirana yang duduk di hadapannya. Ryan kemudian sadar dan mengenalkan Kirana pada sahabat dekatnya itu.“Oh iya, Kiran. Ini sahabat dekatku, namanya Tomi. Tomi ini Kirana.” UjarnyaKirana dan Tomi saling berkenalan.“Jadi, gadis cantik ini siapa kamu, Yan?” tanya Tomi“Oh...Ehm...Kiran ini pacar aku.” Jawabnya raguAir muka Tomi berubah ketika mendengar pernyataan Ryan. Tomi menatap Kirana yang tak merasa curiga sedikitpun melihat gelagat Tomi.“Oh..” jawab Tomi singkat.Mereka bertiga akhirnya makan siang bersama. Tak terasa waktu cepat berlalu, Kirana dan Ryan berpamitan pada Tomi. Mereka berdua berlalu, tetapi wajah Tomi masih menandakan rasa cemas. Ada satu hal yang mengganjal hatinya. Sesuatu yang tak Kirana tahu.Tiga bulan sudah Kirana melewati hari-harinya bersama Ryan. Ia kini mulai yakin bahwa jodohnya adalah Ryan. Tiara yang memperhatikan kakaknya yang senyum-senyum semenjak tadi menggodai kakanya.“Aduh..yang lagi kasmaran” goda TiaraKirana tersenyum malu pada adiknya.“Jadi, kapan mau menikah?” tanya Tiara usil“Apaan sih, baru saja tiga bulan pacaran,” jawab Kirana malu“Kalau sudah cocok jangan tunggu lama, nanti diambil orang”Kirana melempar bantal sofa di dekatnya dan mengenai wajah Tiara. Tiara lari sambil tertawa. Kemudian, suara bel pintu terdengar. Tiara mendekati pintu dan membukanya. Tampaklah seorang lelaki gagah dan tampan berdiri di hadapannya. Tiara terpesona menatap lelaki itu.“Wah, Kakak tampan mencari siapa?” tanyanya luguLelaki itu tersenyum mendengar pujian dari gadis berusia 18 tahun itu.“Siapa, Tiara?” tanya Kirana dari jauh“Ehm...ada laki-laki tampan yang mampir ke rumah kita, Kak.” Jawab Tiara setengah berteriak.Kirana bingung mendengar perkataan adiknya, lalu ia bergegas menuju ke pintu depan. Tiara masih berdiri di depan pintu dan menatap wajah lelaki itu takjub. Kirana menggeser tubuh Tiara yang menghalangi pintu. Lalu Kirana mempersilakan lelaki itu masuk dan menyuruh Tiara untuk mengambilkannya minum. Dengan berat hati Tiara mengambilkan minuman untuk tamu itu. Tamu itu ternyata Tomi, sahabat Ryan.“Tumben kamu mampir ke rumahku, ada angin apa yang membawa kamu ke sini?” tanya Kirana bergurauTomi tampaknya tak tersenyum. Gurat cemas tampak di wajahnya. Kirana yang melihat Tomi tampak seriaus mulai heran, lalu bertanya“Ada apa, Tom?” tanya Kirana seriusTomi tak menjawab. Ia menatap mata Kirana tajam dan memberikan surat pada Kirana. Surat itu ada dua, yang satu surat yang bersampul biru dan yang satu lagi surat bersampul merah muda. Kirana membuka surat yang bersampul berwarna biru terdahulu. Wajah Kirana tampak murung membaca surat itu. Dengan tangan gemetar, ia membuka surat berwarna merah muda. Air mata terjatuh ke pipinya yang putih. Kirana menangis tersedu-sedu. Tomi mendekati Kirana dan memeluknya.“Ini yang aku takutkan, aku tahu kau pasti tak tahu soal ini.” ujar TomiSurat itu dari Ryan. Surat berwarna biru berisi tentang permohonan maafnya terhadap Kirana yang tak mengakui statusnya yang sebenarnya telah memiliki kekasih, jauh sebelum bertemu dengan Kirana. Dan surat yang berwarna merah muda adalah surat undangan pernikahan Ryan yang diselenggarakan hari ini. Ryan meminta Tomi untuk memberikan surat itu pada Kirana. Tomi yang tak tega menyalahi Ryan yang tak mengakui statusnya pada Kirana. Semenjak itu, Ryan dan Tomi tak saling bicara. Dan Kirana tak sedetikpun memaafkan Ryan yang telah membohonginya selama ini.Tiga tahun telah berlalu. Ryan telah memutuskan untuk bercerai dengan istrinya karena adanya pertengaran yang tak kunjung reda. Ryan duduk termenung di atas tempat tidurnya. Ia merasa bersalah dan menyesal telah meninggalkan Kirana, gadis yang selama ini telah membuatnya jatuh cinta. Tak pernah Ryan melupakan Kirana. Seandainya ia masih bersama Kiran, mungkin kini ia hidup bahagia bersama Kirana, pikirnya. Angannya membawa Ryan kembali ketika ia bersama Kirana. Ryan kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas menuju mobilnya. Ryan berniat untuk bertemu kembali dengan Kirana dan meminta maaf atas semua perbuatannya. Dan Ryan berniat untuk kembali bersama Kirana. Mobil melaju cepat, menuju ke arah rumah Kiran. Tiba-tiba ia melihat mobil yang ia kenal, lalu memutar balik dan mengikuti mobil itu. Mobil yang ia ikuti adalah mobil Tomi. Mobil itu berhenti di sebuah taman kota. Ryan memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Tomi. Dari mobil itu, tampak dua orang keluar dari mobil. Dua orang itu adalah Tomi dan Kirana. Ryan langsung keluar dari mobil dan mengikuti mereka. Ryan memanggil Tomi dan Kirana.“Ryan?” ujar Tomi heran.Kirana menampakkan wajah kekecewaan ketika melihat Ryan. Ryan mendekati mereka berdua kemudian menggenggam tangan Kirana yang tampak kesal pada Ryan.“Kiran, aku minta maaf atas perbuatanku selama ini. ijinkan aku kembali padamu” ujar Ryan terus terang.Kirana menghempaskan tangannya dari genggaman Ryan dan berbalik memunggungi Ryan. Lalu ia berkata“Maaf, aku tak bisa” kata Kirana tegas“Kenapa? Apa kamu tak bisa memaafkan kesalahanku?”“Bukan,” ujar Kirana, lalu berbalik menghadap Ryan“Karena aku kini bersanding dengan Tomi,” lanjutnya“Apa?” Ryan terkejutKirana menjelaskan pada Ryan. Setelah Ryan meninggalkannya, hanya Tomi yang berada di sampingnya dan menghiburnya dari rasa sakit dan kecewa terhadap Ryan. Selama itulah Kirana menyadari bahwa Tomi sebenarnya jatuh cinta padanya sejak pertama bertemu. Tomi yang menyayangi Kirana bertengkar dengan Ryan karena wanita yang ia cintai telah Ryan sakiti. Dan setelah itu, Kirana kini mulai menjalin kasih dengan Tomi.“Bukan maksud untuk membalas sakit hatiku padamu, Ryan” ujar Kirana“Salahmu meninggalkanku dan kini biarkan aku bahagia bersama Tomi. Relakan aku bahagia bersamanya, Ryan.” Sambung KiranaRyan tak mengatakan sepatah katapun. Ia meninggalkan Tomi dan Kirana yang menatap kepergiannya. Dalam hati ia merasa kesal dan marah, tetapi ia pun sadar bahwa Kirana berhak menemukan cintanya sendiri meski bukan bersanding dengannya.









0 comments:
Posting Komentar